
Keterangan Gambar : Asrizal Nur, sebagai Ketua Panitia HPI pada acara konferensi pers Menyongsong Prosesi Penetapan HPI, di PDS HB.Jassin, Jakarta, 21 Juli 2025 petang. (sumber foto : july sofyan/pp)
JAKARTA -PJMINews - Perjuangan para penyair selama 13 tahun dalam upaya penetapan Hari Puisi Indonesia (HPI) begitu berat dan melelahkan, tapi juga membanggakan. Hal ini dijelaskan oleh Asrizal Nur, sebagai Ketua Panitia HPI pada acara konferensi pers Menyongsong Prosesi Penetapan HPI, di PDS HB.Jassin, Jakarta, 21 Juli 2025 petang.
Asrizal yang juga Ketua Yayasan Hari Puisi (YHP) ini menambahkan, setelah mendapatkan ketetapan dari Pemerintah Indonesia, tanggal 26 Juli merupakan Hari Puisi Indonesia , tentunya HPI akan jadi milik masyarakat luas, terutama kalangan komunitas. Dan selama ini berbagai komunitas juga diikutsertakan dalam upaya memperjuangkan penetapan HPI tanggal 26 Juli itu.
Senada dengan Asrizal, penyair wanita Ewith Bahar yang juga sebagai panitia menjelaskan, sejak awal yayasan menyatakan bahwa HPI ini milik semua komunitas. "Karena kita sadar kalau berjuang atau bergerak untuk satu tujuan, tidak dapat berjalan sendiri, tandasnya. Perjuangan itu dilakukan setiap tahun dengan menyelenggarakan HPI di berbagai tempat. "Hanya satu kali, saat covid 19 melanda, kita tidak menyelenggarakan," tandas Ewith.
Ewith juga menyatakan, untuk memperjuangkan penetapan HPI tidak mungkin hanya dilakukan YHP, karena jumlah orangnya sedikit. "Kalau YHP menginisiasi, betul, iya. Tapi di dalamnya banyak dari komunitas lain," jelas Ewith.
Jadi nantinya, tidak ekslusif milik yayasan. Siapa saja bisa bergabung dan siapa saja bisa menyelenggarakan HPI. "Ini penting dijelaskan melalui media pers," ujarnya.
Selain Ewith Bahar, hadir sebagai pembicara pada konferensi pers ini penyair Sutardji Calzoum Bachri, Sihar Ramses Simatupang, Sofyan RH.Zaid, dan dipandu oleh penyair Herman Shara. *** (Juli Sofyan/pp).



444.png)





LEAVE A REPLY